Cublak Cublak Suweng adalah salah satu permainan anak-anak yang berasal dari Jawa Timur. Permainan ini diciptakan oleh salah seorang Wali Songo yaitu Syekh Maulana Ainul Yakin atau yang biasa dikenal dengan Sunan Giri. Sunan Giri menyebarkan agama islam di Indonesia khususnya pulau Jawa melalui jalur kebudayaan. Permainan anak-anak ini berkembang hingga wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Nama Suweng yang digunakan dalam pemainan ini sebenarnya berasal dari alat yang di gunakan saat memainakn permainan ini, yaitu sejenis suweng (subang) yang terbuat dari tanduk. Alat itu biasa digenggam oleh anak-anak yang bermain cublak-cublak suweng. Jika tidak ada suweng, maka dapat diganti dengan kerikil (batu kecil) yang dianggap sebagai suweng. Biasanya, anak-anak yang memainkan permainan ini adalah anak-anak yang berusia 6-14 tahun, laki-laki maupun perempuan, dan minimal adalah 3 anak.

Sebelum bermain, anak-anak menentukan dulu si “embok”(sebutan bagi pemimpin dolanan). Setelah disepakati, lalu mereka hompimpah untuk menentukan pemain yang menang dan kalah. Caranya dengan membuka telapak tangan bagian kanan, boleh membuka bagian atas (kulit warna coklat) maupun bawah (kulit warna putih). Secara bersama-sama sambil menyerukan kata “hompimpah”. Telapak tangan yang beda dianggap menang.

Anak yang kalah, di sebut “Dadi” (dalam bahasa Indonesia “Jadi”) harus bersimpug lalu badannya direbahkan ke lantai, sementara pemain lainnya mengelilinginya, sambil kedua tangannya diletakkan terlentang (terbuka) di punggung pemain “Dadi”. Begitu pula tangan sebelah (biasanya kiri) bagi si “embok” (pemimpin dolanan). Sementara tangan kanannya memegang kerikil atau sejenisnya yang dianggap sebagai suwengnya.

Si pemain yang “Dadi”, sambil tengkurap juga memejamkan mata, agar tidak tahu gerakan suweng yang diedarkan ke antar tangan. Setelah itu, semua pemain yang menang bersama-sama si “embok” menyanyikan “syair cublak-cublak suweng.”

Setelah si “embok” sebagai pimpinan dolanan cublak-cublak suweng selesai menyanyikan lagu Cublak-Cublak Suweng, ketika pada akhir syair “gosong” atau “oraenak”, maka pemain terakhir yang kejatuhan suweng (kerikil) segera menggenggam tangannya hingga suweng atau kerikil tersebut tidak kelihatan.

Demikian pula tangan anak-anak lain, juga dalam posisi menggenggam, seolah-olah menggenggam suweng. Cara ini sebagai bentuk tipuan agar pemain yang “Dadi” (Jadi) bingung mencari tangan yang benar-benar menggenggam suweng (kerikil). Semua tangan anak sudah dalam posisi menggenggam, sambil jari telunjuk dijulurkan (atau diluruskan). Kemudian di gerakkan berkali kali antara jari telunjuk kanan dan kiri sambil menyanyikan bagian akhir syair lagu Cublak Cublak Suweng berulang ulang:
“sir sir plak dhele kaplak ora enak”
atau
“sir sir pong dhele gosong”
Saat pemain selesai menyanyikan syair bagian akhir, pemain yang “Dadi” (Jadi) mulai duduk dan menebak tangan pemain yang berisi suweng (kerikil) . Jika pemain yang “Dadi” (jadi) kebetulan tepat menunjuk tangan yang membawa suweng (kerikil), maka secara otomatis, nyanyian dihentikan dan anak yang tertebak membawa suweng menjadi anak yang “Dadi” (Jadi). Selanjutnya permainan akan dimulai dari awal.

Namun jika pemain yang “Dadi” (Jadi) tidak tepat menunjuk tangan yang menggenggam suweng, maka ia kembali menjadi pemain yang “Dadi” (Jadi). Dalam permainan ini, jika ada anak yang berulang kali “dadi” (Jadi) di istilahkan dengan dikungkung.

Sebelum permainan kembali diulangi dari awal, biasanya ada kesepakatan hukuman bagi pemain “Dadi” yang salah tebak, misalnya hukuman pukulan tangan. Caranya, secara bergiliran pemain memukul (istilah Jawa: namplek) salah satu tangan pemain “Dadi” yang direntangkan di hadapan pemain. Lalu kedua tangan pemain diletakkan di kanan kiri tangan yang direntangkan. Setelah itu, secara bergantian tangan kanan kiri pemain diayunkan namplek tangan pemain kalah. Jika tangan pemain kalah dapat menghindar dari tamplekan tidak mengena, maka ia bebas dari hukuman salah satu pemain.

Kemudian dilanjutkan hukuman oleh pemain menang lainnya dengan cara yang sama. Jika semua pemain menang telah menghukum, maka pemain yang “Dadi” (Jadi) kembali duduk bertimpuh dengan membungkukkan badan atau tengkurab, atau seperti posisi awal permainan.

Para pemain menang kembali menyanyikan syair cublak-cublak suweng. Begitu seterusnya hingga semua anak merasa puas atau capek bermain cublak-cublak suweng

Berikut adalah syair Cublak Cublak Suweng
Versi Jawa Jawa Timur:
Cublak-cublak suweng, suwenge tinggelenter, mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere, sapa guyundhelikake, sir-sir pong dhele gosong, sir-sir pong dhele gosong

Versi daerah Yogyakarta:
Cublak-cublak suweng, suwenge tinggelenter, mambu ketundhung gudel, pak empong orong-orong, pak empong orong-orong, sir-sir plakdhele kaplak ora enak, sir-sir plak dhele kaplak oraenak

Foto: Alfat